Langsung ke konten utama

Cerita2 - Pemberi Kebebasan dan Kesempatan, Malah Disebut Plin Plan



Ya, aku memang susah jika dihadapkan dengan pilihan. Bukan plin plan dan tak pula ingin disebut plin plan. Bukan pula menuju penyebutan egois.

Aku hanya ingin memberi kebebasan dan kesempatan, agar berani berpikir sendiri. Sejatinya, memang manusia bersosial. Ya, aku tau itu. Hanya saja salah menyalahkan masih ada dalam diri.

Baca dan pahami baik-baik! Jika diri berani berpikir sendiri artinya tanggungjawab dan sanksi sudah melekat padanya. Dan jika ingin melibatkan pilihan dari oranglain masuk dalam pikiranmu, kau juga harus berani bertanggungjawab atas itu serta menyalahkan diri sendiri. Bukan malah menggerutu “sebenarnya itu gara-gra dia yang milihin pilihan (Pakaian, makan, aksesoris dan bla lainnya. Perutku jadi sakit, gagal dietku, penampilanku tidak menarik dan gerutu lainnya).

Lalu gara-gara ikut dia juga “aku jadi pulang telat, bangun telat, nggak ngerjain pr, dimarahin ortu, guru dan macamnya). Kemudian ikut-ikutan ambil jurusan baik waktu sekolah ataupun kuliah, tiba nilai jelek “sebenarnya aku ngak kepengen jurusan ini, aku ngikut kawanku.” Lah! Dari situ dapat dilihat, bahwa kau belum bisa bertanggungjawab atas dirimu sendiri atau belum tertanam sifat itu atau memang itu sifatmu dan atau atau lainnya.

Sejatinya menggerutu itulah andalanmu. Bukan tindakan. Tuhan memberi waktu pada kita 24 jam, manfaatkan!. Jika menyalahkan atas hal tadi berarti kamu menyalahkan Tuhan. Lah ko? Ya iya. Wong kamunya yang belum bisa handle pilihan dan waktu ko malah nyalahin ciptaannya. Kenapa jadi medog gini ya..hihihi


Intinya, mulailah dari sekarnag berani mengambil keputusan sendiri, menyalahkan diri sendiri lalu koreksi diri dan ambil hikmahnya. Cobalah menjadi diri yang bisa berada disegala 'episode' makhluk hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mandiri dalam Berseni

“Kami ingin membuktikan bahwa seniman itu mandiri,   membangun dengan keringat dan uang sendiri seperti dengan pertunjukan serta kreativitas” – Marhalim Zaini (Pendiri Rumah Kreatif Suku Seni Riau / RK-SSR) Beratap daun nipah dan beralaskan kayu menjadi ciri khas Sanggar Rumah Kreatif Suku Seni Riau (RK-SSR) ala rumah kampung dalam berkreatifitas sehari-hari. Pepohonan nan rindang menjadikan udara alami tetap terjaga serta semakin menambah kesejukan serta kenyamanan tempat itu. “Di Riau jarang ada sanggar atau komunitas yang bertahan lama dan memiliki tempat khusus untuk berkreativitas, banyak yang menempati fasilitas pemerintah seperti di Taman Budaya dan Lapangan Paripurna MTQ,” ucap Marhalim. Terdapat dua hal yang melatarbelakangi RK-SSR, 1) kemandirian – lepas dari tangan pemerintah atau tidak dibawah otoritas dari sebuah lembaga apapun. 2), menghimpun pekerja seni di Riau terutama yang memiliki visi serta motivasi yang sama, untuk berkarya yang sama dalam...

Kolaborasi antara Digital dan Kertas

Mengutip peribahasa kuno “ Verba volant scripta manen ” yang mengandung arti apa yang terkatakan akan segera lenyap, apa yang tertulis akan menjadi abadi. Jika dikaji lebih lanjut, maka hal tersebut berkaitan - alangkah baiknya apa yang terbilang untuk segera dituliskan agar tak lenyap. Maka hal itu akan berkaitan dengan si penampung goresan yaitu kertas. Kertas adalah benda yang berbentuk lembaran, dibuat dari bubur kayu yang biasa ditulisi atau untuk pembungkus. Tanpa kertas dunia ini nothing . Banyak fungsi dari kertas yang bisa didapatkan. Pertama , segi pengetahuan yang didapat dari kumpulan lembaran kertas bernama buku. Ia bisa menjadi guru dan juga guru yang tak pernah marah. Perkembangan teknologi menjadikan buku mudah dicari dan didapat. Bagaimana tidak, kini buku hadir dalam genggaman smartphone canggih. Pemilik smartphone hanya tinggal pilih dan unduh aplikasi e-book yang berfarian. Semua itu tinggal bagaimana kita memanfaatkan teknologi. Hal tersebut...

Berbeda Bukan untuk Dikasiani

Duduk di kursi hitam di antara para pemateri, wanita berkacamata yang juga mengenakan hijab biru dengan baju bermotif bunga dan celana serta sepatu hitamnya sekilas tampak tidak ada yang berbeda dengan dirinya. Ia berkesempatan menyampaikan keluh kesahnya yang terjadi di lapangan pada acara diskusi publik memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP) yang digelar oleh Koalisi Anti Diskriminasi (Kasai) Riau pada Sabtu, (1/12) di Aula Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Riau, Jl. Adi Sucipto. Acara berlangsung pukul 09.00 WIB - 12.00 WIB. Bertema "Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Berikan Demokratik Rakyat". "Acara diskusi publik ini sebagai rangkaian 16HAKTP, yang jatuh pada 25 November, mendukung pemilu anti diskriminasi, yang mana catatan tahun ke tahun berdasarkan Komnas HAM dalam satu hari ada 3 perempuan dari 10 yang menjadi korban kekerasan. Nah, di Pekanbaru dari 100 kasus yang di tangani tahun ini 75% adalah perempuan d...